porang tanaman

Ini Kerugian Menanam Porang!

Daftar Isi Artikel

Tanaman porang memang menjadi trending topik sepanjang tahun ini karena harga jual dan permintaannya yang besar. Namun beberapa bulan terakhir ini, kerugian menanam porang akibat banyak petani porang harga porang tidak sebaik dibandingkan harga porang sebelumnya yang bisa mencapai Rp 10.000/kg untuk umbi produksi.

Saat ini harga porang malah ada yang sampai Rp 3.000 per kg akibat banyak petani yang sudah panen umbi produksi dan terbatasnya impor porang yang tidak sebanyak sebelumnya. Hal ini memang akan jadi beban tersendiri apalagi untuk petani porang pemula.

Untuk itu menurut kami ada beberapa hal yang bisa mengakibatkan kerugian menanam porang apalagi untuk pengusaha ataupun petani yang baru terjun atau latah dengan viralnya tanaman porang ini.

Waktu Tanam Porang Relatif Lama

Kerugian menanam porang yang pertama adalah waktu yang relatif lama karena harus menunggu minimal 8 bulan. Bahkan bisa jadi 2 musim baru bisa panen. Hal ini dipengaruhi oleh bibit porang yang kita gunakan seperti bibit katak super, bibit katak mini, bibit spora atau bibit umbi mini.

Tentunya jika kita menggunakan bibit umbi mini maka kita bisa panen lebih cepat dibandingkan dengan bibit katak apalagi bibit spora kan lebih lama lagi. Untuk itu jika menanam porang maka memang lebih baik jika sudah berhitung tentang masa panen. Jangan sampai sudah rugi waktu juga rugi biaya karena harga yang tidak menentu.

Harga Porang Tidak Menentu

Faktor harga memang menjadi hal yang sensitif belakangan ini akibat harga porang yang turun akibat permintaan yang kurang akibat impor porang tidak sebesar yang dahulu, apalagi saat ini porang banyak di budidayakan petani sehingga supply lebih besar dibandingkan permintaan.

Baca juga :   Cara Budidaya Tanaman Porang dengan Modal Kecil Hasil Besar

Sebenarnya sudah banyak pabrik porang yang berdiri tetapi kebanyakan produksi akhirnya dalam bentuk chips porang belum sampai ke tahap tepung porang dengan kandungan glukomanan yang besar sehingga ketika permintaan luar negeri tersendat maka banyak pabrik juga mengurangi pembelian ke petani.

Akibatnya petani dirugikan dengan harga yang turun tidak sebanding dengan biaya produksi. Apalagi yang memakai pola intensif budidaya porang maka biaya operasional lebih tinggi dibandingkan yang tumbuh liar saja. Hal ini masih bisa dihindari dengan cara menunda panen porang sampai musim depan sambil menunggu harga membaik.

Banyak Petani Peniru

Kerugian menanam porang selanjutnya adalah sudah banyak petani yang budidaya porang. Yah memang karena hasil yang didapatkan petani terdahulu luar biasa besar karena memang yang budidaya masih kurang dibanding permintaan pasar dalam dan luar negeri.

Maka petani peniru atau latah ikut-ikutan dalam budiya porang. Hal ini tidak salah dan wajar saja, apalagi Presiden RI sudah mengatakan Porang merupakan tanamana prioritas ekspor dan peluang pasarnya masih besar. Maka wajar saja banyak petani yang beralih menanam porang dibanding menanam yang lain.

Cuma yah begini lah akibatnya kalau supply dan demand tidak seimbang maka harga akan cenderung turun karena permintaan pasar yang berkurang sedangkan umbi produksi semakin banyak.

Solusi Menghindari Kerugian Menanam Porang

Harus kita akui yang namanya kerugian adalah hal yang biasa dalam dunia bisnis apalagi budidaya tanaman. Akan tetapi jika kita bisa mengatur dengan baik pola kerja kita maka bukan hal mustahil kita bisa menghindar dari yang namanya kerugian.

Dalam hal budidaya tanaman porang, solusi yang bisa kami berikan agar terhindar dari kerugian menanam porang sebagai berikut :

  1. Kerjasama langsung dengan pabrik pengolahan porang. Hal ini akan menjamin pemasaran hasil budidaya porang petani terkait dengan harga dan kepastian umbi porang akan dibeli oleh pabrik sesuai harga yang telah disepakati sebelumnya.
  2. Menunda panen porang. Jika masa panen porang sudah tiba dan harga porang masih tidak sesuai harapan maka membiarkan porang tidak dibongkar akan menghindarkan kita dari kerugian setidaknya porang yang masih dalam tanah lebih aman dari pembusukan dibanding kita panen dan menumpuk umbi dalam karung.
  3. Budidaya porang dengan cara tradisional dengan membiarkan di lahan yang sudah ada tanpa perlakuan intensif seperti pembelian pupuk, mulsa dan tanpa persiapan lahan karena sejatinya tanaman porang adalah tumbuhan liar. Memang biaya produksi akan rendah tetapi hasil yang didapatkan tidak sebaik dengan lahan yang telah dipersiapkan dengan baik.
  4. Jangan membeli bibit yang harganya mahal. Saat ini harga bibit katak masih sekitar Rp 200.000/kg. Pembelian bibit memakan porsi 50% biaya produksi habis untuk penyiapan bibit maka rasionalisasi harga bibit harus dilakukan agar beban biaya produksi bisa ditekan
Baca juga :   Analisa Usaha Tanaman Porang dari 3 Jenis Bibit Porang

Menanam porang memang prospeknya masih cerah karena kebutuhan tepung porang permintaannya masih besar baik dalam dan luar negeri. Untuk saat ini mungkin banyak yang merasa rugi menanam porang tapi yakin saja kalau kita berhenti maka akan lebih rugi lagi.

Setidaknya menunda panen dan tetap budidaya porang dengan menekan biaya produksi akan lebih arif dan bijaksana dalam hal budidaya porang saat ini sambil menunggu harga kembali membaik. Tetap semangat para petani porang!

error: Sok atuh nulis sendiri, jangan asal copy aja hahaha !!